Dosa dan Husnul Khotimah: Menggapai Akhir yang Mulia
"Dosa dan Husnul Khotimah:
Menggapai Akhir yang Mulia"
Dalam perjalanan hidup ini, tak terhindarkan bahwa kita
sebagai manusia biasa pasti melakukan kesalahan dan dosa. Dosa tersebut bisa
dilakukan dengan sengaja ataupun tidak, dalam bentuk ucapan, perbuatan, atau
bahkan dalam pemikiran. Namun, yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi
dosa tersebut dan berusaha untuk bertobat, karena sejatinya semua manusia pasti
berbuat salah.
Bagi siapa pun yang menginginkan husnul khatimah—akhir
yang baik—dalam kehidupan ini, usaha untuk menjaga diri sangatlah penting.
Tidak ada yang tahu kapan ajal akan datang, bahkan ketika seseorang merasa
sehat atau sudah menua. Misalnya, meski usia sudah mencapai 68 tahun, seseorang
bisa saja meninggal dunia secara mendadak, seperti yang terjadi pada kakak ipar
saya yang meninggal pada Senin lalu. Meskipun tubuhnya tampak sehat, ajal
datang tak terduga.
Kehidupan ini mengajarkan kita bahwa hanya Allah yang
mengetahui waktu kematian kita, dan ajal itu sudah ditentukan dalam lauhul
mahfudz. Maka, meskipun kita tidak tahu kapan ajal itu datang, kita harus
terus berusaha menjaga diri agar memperoleh husnul khatimah.
Menjaga Kehidupan Agar Berakhir dengan Husnul
Khotimah
Ketika seseorang berusaha menjaga dirinya untuk husnul
khatimah, bukan berarti kita hanya menunggu waktu, melainkan harus
berusaha dari sekarang, terutama dalam hal berdoa dan beribadah. Salah satunya
adalah melalui doa dalam sujud, di mana Nabi Muhammad SAW mengajarkan tiga doa
yang tidak boleh ditinggalkan, termasuk doa meminta husnul khatimah:
"?????
??? ????? ??? ???????"
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu husnul khatimah.
Selain itu, ikhtiar lahiriah juga penting. Misalnya,
kebiasaan sehari-hari harus mencerminkan filosofi husnul khatimah.
Ketika minum, lakukan dengan cara yang baik: duduk, minum sedikit-sedikit,
dimulai dengan basmalah dan diakhiri dengan Alhamdulillah.
Tanda-Tanda Husnul Khotimah
Ada beberapa tanda orang yang meninggal dengan husnul
khatimah. Salah satunya adalah mengucapkan kalimat syahadat di akhir
hidupnya. Nabi Muhammad SAW bersabda:
"??
??? ??? ????? ?? ??? ??? ???? ??? ?????"
Siapa pun yang akhir ucapannya "La ilaha illallah" (Tiada Tuhan
selain Allah), ia akan masuk surga.
Namun, meraihnya tidaklah mudah. Seperti yang diceritakan
oleh seorang rohaniawan yang bertugas di Rumah Sakit Islam Jakarta, dari seribu
orang yang dia dampingi saat sakaratul maut, hanya sekitar 70 orang yang dapat
mengucapkan kalimat syahadat di akhir hidupnya.
Itulah mengapa tugas lakinu mautakum—menuntun
orang yang sedang sakaratul maut untuk mengucapkan "La ilaha
illallah"—adalah hal yang sangat penting dan harus diprioritaskan. Doa dan
usaha kita untuk mencapai husnul khatimah bukanlah sesuatu yang bisa
dianggap remeh, melainkan sebuah langkah serius yang akan menentukan akhir
kehidupan kita di dunia dan di akhirat
Menggapai Husnul Khotimah, Jalan Ibadah Tanpa Henti
Alhamdulillah, dari seribu hanya tujuh puluh, atau hanya
tujuh persen. Angka yang kecil, tapi mengingatkan kita untuk tidak meremehkan
pentingnya perjuangan menuju akhir hidup yang baik. Usaha ini tidak bisa
dianggap mudah.
Pegawai yang Bertanya
Ada cerita menarik dari seorang pegawai yang bertanya
kepada keluarga orang-orang yang wafat dengan mengucap la ilaha illallah.
Dari jawaban mereka, terungkap bahwa mayoritas orang yang wafat dalam keadaan
baik itu adalah mereka yang rajin beribadah dan menjaga sholatnya dengan sangat
baik.
Orang-orang ini tidak hanya beribadah, tetapi juga
menjalani hidup dengan penuh kebaikan. Mereka tidak suka menyusahkan orang lain
dan selalu berusaha menjadi pribadi yang bermanfaat.
Berlatih dari Sekarang
Jika kita menginginkan akhir hidup yang baik, tanda pertama
yang harus kita usahakan adalah dengan membiasakan diri beribadah sejak
sekarang. Salah satu caranya adalah dengan memperbanyak tahlil, yakni mengucap la
ilaha illallah. Nabi Muhammad SAW bersabda, "Jadidu imanakum bi
la ilaha illallah", yang artinya, "Perbaharuilah iman kalian
dengan mengucap la ilaha illallah."
Bahkan, meskipun hanya sedikit, konsistensi dalam berdzikir
akan membawa hasil. Lakukan dengan penuh keikhlasan dan terus-menerus, kecuali
jika ada halangan.
Tanda-Tanda Husnul Khotimah
Dalam beberapa riwayat, ada tanda-tanda orang yang
meninggal dengan husnul khotimah. Salah satunya adalah mereka yang akhir
ucapannya adalah la ilaha illallah. Contohnya, kisah Freddy Budiman,
gembong narkoba yang bertobat sebelum meninggal. Menjelang eksekusi, ia
mengucapkan la ilaha illallah.
Tanda lainnya adalah meninggalnya seorang mu'min dengan
dahi yang berkeringat. Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa meninggalnya seorang
mu'min dengan dahi yang berkeringat adalah salah satu tanda husnul khotimah.
Rahasia Keringat di Dahi
Mengapa keringat di dahi menjadi tanda? Hingga kini, belum
ada penjelasan pasti. Beberapa berpendapat bahwa hal itu terjadi karena
sakitnya sakratul maut, tapi ini bukan alasan yang meyakinkan. Sebab,
jika hanya karena rasa sakit, orang yang tidak beriman pun bisa mengalami hal
yang sama.
Akhirnya, jika sebabnya tidak ditemukan, mungkin itu adalah
rahasia Allah. Yang terpenting bagi kita adalah berusaha menjalani hidup dengan
baik dan memperbanyak ibadah, sehingga kita bisa berharap meraih husnul
khotimah saat waktunya tiba
Misteri Keringat di Dahi dan Tanda-Tanda Lain
Husnul Khotimah
Sabda Nabi Muhammad SAW tentang keringat di dahi sebagai
tanda husnul khotimah mungkin memang sulit dipahami. Jika tak ada penjelasan
yang jelas, bisa jadi ini adalah rahasia Allah, diberikan kepada
hamba-hamba-Nya yang sungguh-sungguh beriman dan beribadah.
Namun, jangan serta-merta menyimpulkan bahwa orang yang
meninggal tanpa keringat di dahi tidak mendapat husnul khotimah. Masih banyak
tanda lain yang bisa menjadi indikator.
Tanda Ketiga: Wafat di Hari atau Malam Jumat
Hadis lainnya menyebutkan, siapa saja muslim yang meninggal
pada hari atau malam Jumat akan dijaga dari fitnah kubur. Hari Jumat dimulai
sejak maghrib pada Kamis malam hingga Jumat sore. Jadi, baik yang meninggal
malam Jumat maupun Jumat siang memiliki keutamaan ini.
Para ulama menjelaskan bahwa pembebasan dari fitnah kubur
ini merupakan jaminan untuk melewati salah satu etape setelah kematian. Namun,
itu belum menjamin bebas dari neraka. Ada hadis lain yang menyatakan, mereka
yang lolos dari fitnah kubur akan lolos dari fitnah lainnya di kehidupan
setelah kematian.
Namun, sekali lagi, tidak berarti semua yang meninggal di
hari Jumat pasti husnul khotimah. Misalnya, jika seseorang meninggal dalam
keadaan mabuk atau melakukan maksiat lainnya, hal itu menunjukkan kondisi akhir
yang buruk (su'ul khotimah).
Tanda Keempat: Mati Syahid
Tanda lain husnul khotimah adalah mati syahid. Mati syahid
ini terbagi menjadi dua: syahid dalam peperangan dan syahid di luar peperangan.
Syahid dalam peperangan pun memiliki tingkatan. Tingkat
pertama adalah mereka yang meninggal langsung akibat senjata musuh, seperti
tertembak atau tertombak. Tingkat kedua adalah mereka yang meninggal dalam
medan perang tetapi bukan karena senjata musuh, misalnya jatuh dari kuda atau
serangan jantung saat bertempur.
Tingkat ketiga adalah mereka yang meninggal karena
luka-luka akibat perang meskipun sudah keluar dari medan pertempuran. Semua ini
termasuk dalam kategori syahid yang mendapat keutamaan husnul khotimah.
Syahid dalam Perang: Tanda-Tanda Husnul Khatimah
Syahid dalam peperangan adalah salah satu tanda husnul
khotimah. Berangkat ke medan perang bukanlah perkara mudah; perang adalah
sesuatu yang menakutkan dan penuh risiko. Oleh karena itu, Allah memberikan
balasan yang luar biasa bagi mereka yang syahid di jalan-Nya.
Namun, Nabi Muhammad SAW memberikan penjelasan lebih lanjut
mengenai siapa saja yang tergolong syahid. Dalam suatu kesempatan, Nabi
bertanya kepada para sahabat, "Menurut kalian, siapa saja yang dikatakan
orang yang mati syahid?" Para sahabat menjawab, "Mereka yang tewas
dalam jihad fi sabilillah, itulah yang syahid." Nabi menjawab, "Kalau
begitu, jumlah mereka sedikit, karena dalam peperangan, umumnya lebih banyak
yang selamat daripada yang terbunuh."
Kemudian para sahabat bertanya lagi, "Kalau begitu,
siapa saja yang termasuk mati syahid, ya Rasulullah?" Nabi menjawab,
"Ada lima golongan yang termasuk mati syahid." Dalam hadits lain,
disebutkan tujuh golongan.
1.
Orang
yang meninggal karena wabah penyakit Mereka
yang meninggal karena wabah, seperti pandemi COVID-19, termasuk dalam golongan
syahid. Namun, ini berlaku bagi orang beriman yang baik amalnya, bukan untuk
mereka yang banyak berbuat maksiat.
2.
Orang
yang meninggal karena sakit perut Meninggal
karena penyakit yang berhubungan dengan perut, seperti liver, ginjal, atau
maag, juga termasuk mati syahid.
3.
Orang
yang tenggelam Orang yang meninggal karena
tenggelam juga masuk dalam kategori ini, kecuali mereka yang sedang melakukan
maksiat.
4.
Orang
yang meninggal karena tertimpa benda berat
Mereka yang meninggal karena tertimpa tembok, pohon, atau tanah longsor juga
termasuk dalam golongan syahid.
5.
Wanita
yang meninggal saat melahirkan Wanita yang
meninggal karena melahirkan atau dalam kondisi hamil juga termasuk syahid.
6.
Orang
yang meninggal saat berjaga-jaga di perbatasan
Tentara atau penjaga perbatasan yang meninggal saat menjalankan tugas menjaga
serangan musuh juga tergolong syahid.
7.
Orang
yang meninggal dalam keadaan beramal sholeh
Mereka yang meninggal saat melakukan amal sholeh, seperti sholat, adzan, atau
mengkaji ilmu Allah, juga termasuk dalam kategori husnul khotimah. Hadits
menyebutkan bahwa seseorang akan meninggal sesuai dengan kebiasaannya.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menciptakan
kebiasaan baik dan amal sholeh secara istiqomah. Tidak harus amal yang besar,
tetapi yang dilakukan dengan rutin dan niat ikhlas karena Allah. Misalnya,
bersedekah walaupun sedikit, atau melakukan pekerjaan rumah tangga dengan niat
ibadah.
Apapun yang kita lakukan, jika diniatkan karena Allah, akan
bernilai ibadah. Kita harus bekerja dan beramal dengan niat lillahi ta'ala,
bukan karena manusia atau pujian. Semoga kita semua diberikan husnul khotimah.
Amin.
(Transkrip ceramah Ust.Untung Supriyadi , 15-1-2024, Di
Aula RA BIAS ASSALAM)
Video
Guru dan Karyawan
Data Guru tidak ada






