Menulis, Bermimpi, dan Menginspirasi

Di era digital, ketika layar gawai lebih menggoda daripada lembaran buku, menanamkan budaya literasi menjadi tantangan tersendiri. Namun, di SDIT Bias Assalam, semangat menulis terus menyala, dipupuk dengan penuh kesabaran oleh Su Tono, sosok yang telah delapan tahun membidani ekstrakurikuler jurnalistik di sekolah ini.

"Awalnya, peminatnya sekitar 20-an siswa, bahkan pernah mencapai dua kelas penuh," kenangnya. Tapi, zaman berubah. "Sekarang anak-anak lebih suka main game daripada membaca," katanya, dengan nada setengah bercanda, setengah prihatin.

Namun, tak semua anak tergerus oleh tren digital. Ada Ayesa dan Salma, dua siswi kelas 4 yang memilih jalan berbeda. Mereka bergabung dengan jurnalistik, bukan karena tugas, tetapi karena cinta pada kata-kata.

"Kami mulai ikut jurnalis sejak kelas 4," kata Ayesa. Sebelumnya, ia dan Salma sempat mencoba kokoding, tetapi akhirnya kembali ke dunia tulis-menulis. "Ternyata nggak cocok," ujarnya.

Keduanya punya mimpi besar. Ayesa ingin menjadi komikus, sementara Salma bercita-cita menjadi pengarang. "Aku suka baca komik dan novel," kata Ayesa dengan mata berbinar.

Bagi Su Tono, menulis bukan sekadar merangkai kata. Ada ketekunan, kesabaran, dan tentu saja kebiasaan membaca di dalamnya. "Kalau nggak terbiasa membaca, menulis akan sulit," katanya. Itu sebabnya, ia tak hanya mengajarkan teknik jurnalistik, tetapi juga menanamkan kecintaan terhadap literasi.

Usaha itu berbuah manis. Selama delapan tahun, banyak prestasi lahir dari ekstrakurikuler ini. "Ada siswa yang sudah menerbitkan novel dan komik," ungkapnya bangga. Salah satunya, Maila Rizkya Zere, yang menerbitkan novel Senyum Manis Reza di KKPK. Beberapa siswa lainnya bahkan berhasil menembus media nasional seperti Kompas, Majalah UMI, dan Suara Merdeka.

Kegiatan ekstra jurnalistik dilaksanakan setiap hari Jumat mulai pukul 08.00 - 10.00 di dalam kelas. Namun, pada akhir bulan mereka berpindah ke Alun-Alun untuk berganti suasana agar pertumbuhan kreativitas tetap terjaga. Selama mengasuh kegiatan ini, Su Tono merasakan suka dan duka. Dukanya adalah karena masing-masing anak memiliki karakteristik berbeda, sehingga perlu kesabaran ekstra dalam mengarahkan mereka. Sedangkan sukanya, anak-anak Bias Assalam atraktif dan antusias, apalagi dukungan orang tua terhadap ekstra jurnalistik cukup tinggi. Peminat jurnalistik cenderung didominasi oleh siswa putri, sementara anak laki-laki mungkin kurang telaten dalam menulis.

Tantangan tetap ada. Anak-anak kadang merasa bosan, tapi Su Tono tak kehabisan akal. Ia mengajak mereka menulis dari pengalaman sehari-hari, mengamati sekitar, dan mengubahnya menjadi cerita.

Harapannya sederhana, tetapi penuh makna. "Saya ingin anak-anak yang sudah lulus tetap menulis. Syukur-syukur bisa menerbitkan buku sendiri," ujarnya. Ia bermimpi suatu hari nanti, karya-karya siswa bisa dikumpulkan dalam sebuah buku—sebagai jejak literasi mereka.

Bagi Ayesa dan Salma, jurnalistik bukan sekadar ekstrakurikuler. Ini adalah awal dari perjalanan panjang menuju impian mereka. Dan siapa tahu, suatu hari nanti, nama mereka akan bersinar di antara penulis dan komikus ternama Indonesia.

Video



    
   

Guru dan Karyawan


Data Guru tidak ada

PPDB 2026-2027


Follow us


Kontak


Alamat :

Jl Dadali No. 12 Randugunting

Telepon :

0283 4534 123 - 0852-2527-3641

Email :

humaspsb2019@gmail.com

Website :

www.biastegal.sch.id

Media Sosial :

Banner


Berita Terbaru


Image

Bijak Menjaga Retak Sosial

Image

Neraka Pun Enggan Menyentuh Mereka

Image

Ketika Semua Tidak Harus Berbalas

Image

Tidak Harus Terlihat Hebat

Image

Mengenal Sakaratul Maut

Image

Ketulusan Yang Berbuah Penghargaan

Visitor