Memahami dan Mencintai Ramadhan
Alhamdulillah! Hari yang penuh berkah kembali hadir. Sabtu, 15 Februari 2025, kita diberikan kesempatan luar biasa untuk berkumpul dalam majelis ilmu di Aula Darul Ilmi, RA BIAS ASSALAM Tegal. Bersama Ibu Hj. Musyahiroh, S.Pd., kita mendapat pencerahan tentang persiapan menyambut Ramadan dengan hati yang lebih bersih dan jiwa yang lebih siap. Semoga ilmu yang kita dapatkan hari ini menjadi bekal berharga dan amal ibadah yang diterima. Jangan lupa, mari kita panjatkan salawat dan salam kepada Rasulullah Muhammad SAW, suri teladan sepanjang zaman
Menjadi Orang Tua adalah Keberkahan Besar
Bu Musyahiroh membuka ceramah dengan mengingatkan betapa istimewanya kita yang diberi amanah menjadi orang tua. Anak-anak adalah titipan Allah, dan kebahagiaan terbesar adalah melihat mereka tumbuh dalam kebaikan. Namun, tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama. Ada yang tumbuh dalam pelukan hangat orang tua, ada pula yang harus berjuang sendiri. Karena itu, peran kita sangat besar! Ingat, "Buah jatuh tak jauh dari pohonnya." Akhlak anak kita tergantung pada bagaimana kita mendidik mereka. Maka, mari kita berikan contoh terbaik!
Mengajarkan Anak tentang Ramadan dengan Cinta
Saat Ramadan tiba, anak-anak sering bertanya, "Apa itu puasa?" Nah, inilah momen emas kita sebagai orang tua dan pendidik! Bu Musyahiroh mengingatkan bahwa Surah Al-Baqarah ayat 183 adalah dasar kita dalam menjelaskan makna puasa. Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus, tapi juga menjaga hati, pikiran, dan perbuatan. Ini adalah kesempatan untuk melatih anak-anak dalam kesabaran, berbagi, dan meningkatkan ibadah. Mari jadikan Ramadan sebagai bulan kebersamaan yang penuh makna bagi keluarga kita!
Ramadan: Saatnya Membakar Dosa!
Ramadan adalah bulan penuh keberkahan, bulan yang mampu menghapus dosa-dosa kita!
Bu Musyahiroh mengingatkan kita bahwa Ramadan adalah momen terbaik untuk memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama. Jangan lewatkan kesempatan emas ini! Kita tidak tahu apakah tahun depan kita masih bisa bertemu Ramadan lagi. Maka, mari manfaatkan bulan suci ini untuk memperbaiki diri, lebih banyak beribadah, dan memperkuat ikatan spiritual kita dengan Allah
Ternyata, puasa yang sempurna bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga sembilan pintu diri kita:
Mata – Hindari melihat hal yang tidak baik. Telinga – Stop mendengar gosip dan hal negatif. Mulut – Jaga lisan dari ucapan buruk. Hidung – Hindari mencium sesuatu yang haram.
Tangan – Gunakan hanya untuk kebaikan. Kaki – Langkahkan ke tempat yang membawa manfaat. Perut – Hindari makanan haram dan berlebihan Hati – Bersihkan dari iri, dengki, dan kesombongan.
Jika kita bisa menjaga semua ini, insyaAllah puasa kita akan lebih bermakna dan mendekatkan diri kepada Allah.
Jauhi Sifat Ujub dan Sombong!
Kadang, tanpa sadar kita membandingkan ibadah kita dengan orang lain dan merasa lebih baik. "Aku puasa Senin-Kamis, kamu nggak?" atau "Aku tahajud tiap malam, kamu masih jarang ya?" Hati-hati! Sifat ujub dan sombong bisa menghapus pahala kita. Semakin kita rendah hati, semakin Allah meninggikan derajat kita. Yuk, kita contoh sikap tawadhu dari kisah Asiah, istri Fir'aun, yang tetap teguh dalam keimanan meski hidup dalam kemewahan dunia
Sambut Ramadan dengan Hati yang Bersih!
Ramadan bukan hanya soal ibadah rutin, tapi momen istimewa untuk memperbaiki diri. Mari kita bersihkan hati, perbanyak ibadah, dan sebarkan kebaikan. InsyaAllah, Ramadan kali ini akan menjadi Ramadan terbaik dalam hidup kita. Aamiin!
Video
Guru dan Karyawan
Data Guru tidak ada






