Sholat Tanpa Rasa
Di tengah riuhnya dunia—deadline
menumpuk, masalah datang silih berganti, pikiran penuh sesak—manusia makin
sulit menemukan ruang hening untuk jiwa. Sholat pun jadi rutinitas, bukan pelabuhan
hati. Padahal Rasulullah ? bersabda:
?????????? ??????? ??????? ??? ??????????
“Dijadikan penyejuk mataku dalam sholat.”
(HR. An-Nasa’i dan Ahmad)
Sholat adalah hiburan Nabi ?, tempat
beliau menemukan ketenangan. Para sahabat radhiyallahu 'anhum pun merindukan
datangnya waktu sholat, seolah waktu itulah saat jiwa mereka benar-benar hidup.
Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah berkata:
?????????? ???????
????????? ????? ????? ??? ??????????? ?????? ?????? ??????????
“Sholat adalah tiang agama. Tidak ada bagian dalam Islam bagi siapa yang
meninggalkannya.”
(HR. Malik dalam Al-Muwaththa’)
Ketika hati tak hadir dalam sholat,
maka sholat kehilangan nyawanya. Kita rukuk tanpa tunduk, sujud tanpa takzim,
berdiri tanpa rasa harap. Padahal, kekhusyukan adalah ruh dari seluruh gerakan
itu.
Sholat sejatinya adalah momen
perjumpaan—antara hamba dan Rabb-nya. Ia bukan sekadar kewajiban, tapi juga
kebutuhan. Dan agar kita bisa mencintainya, maka ia harus diajarkan sejak dini.
Di Yayasan BIAS Assalam, kami tak
hanya mengajarkan gerakan sholat kepada anak-anak, tapi juga menanamkan cinta
dalam setiap gerakan itu. Sholat bukan sekadar rutinitas harian, tapi jalan
pulang yang dirindukan.
Video
Guru dan Karyawan
Data Guru tidak ada






