Mujahadah: Tangga Menuju Surga

Pernahkah kita merasa sudah lelah menjalani hidup, tapi malah justru makin jauh dari Allah? Atau pernahkah kita ingin berubah, tapi setiap kali mencoba, selalu tergelincir lagi?
Tenang... Kita semua pernah merasakannya.

Itulah mengapa kita butuh mujahadah—sebuah istilah yang mungkin jarang disebut-sebut di televisi atau media sosial, tapi sangat penting dalam perjalanan iman. Mujahadah artinya bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu, bersabar dalam ibadah, dan tetap memilih jalan Allah, meski berat dan sunyi.

Dalam sebuah hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Rasulullah ? menyampaikan sabda Allah yang begitu menyentuh:

? Hadits Qudsi tentang Mujahadah
???? ????? ?????????? ?????? ??????? ??????? ?????: ????? ??????? ??????? ?:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ? bersabda:
??????? ???????:
Allah berfirman:
???? ?????? ??? ???????? ?????? ????????? ????????????
Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Aku nyatakan perang kepadanya.
????? ????????? ??????? ??????? ???????? ??????? ??????? ?????? ??????????? ?????????
Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dibanding apa yang telah Aku wajibkan atasnya.
????? ??????? ??????? ??????????? ??????? ?????????????? ?????? ??????????
Dan hamba-Ku terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya.
??????? ????????????? ?????? ???????? ??????? ???????? ?????
Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar,
?????????? ??????? ???????? ?????
dan penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat,
???????? ??????? ???????? ??????
dan tangannya yang ia gunakan untuk bertindak,
?????????? ??????? ??????? ??????
dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan.
???????? ????????? ????????????????
Jika ia meminta kepada-Ku, pasti akan Aku beri,
???????? ????????????? ??????????????.
Dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, pasti akan Aku lindungi.
? (HR. Bukhari, no. 6502)

Hadits ini mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah tidak datang tiba-tiba, tetapi lahir dari kesungguhan menjaga amalan wajib, lalu menambahkannya dengan sunnah. Dan saat cinta Allah tercurah kepada seorang hamba, seluruh hidupnya akan dibimbing dan dilindungi oleh Allah—dari telinga, mata, tangan, hingga langkahnya.

Inilah makna Allah melindungi wali-Nya. Wali Allah adalah hamba-hamba yang sungguh-sungguh berjuang (mujahadah) melawan hawa nafsu dan syaitan, menjaga diri di jalan ketaatan. Mereka bukan hanya dicintai, tapi juga mendapat perlindungan langsung dari Allah. Siapa yang memusuhi wali Allah, maka Allah menyatakan perang kepadanya. Sebaliknya, hamba yang bersungguh-sungguh dalam mujahadah akan mendapat penjagaan khusus dari Allah, sehingga jalan menuju surga terbuka bagi mereka.

Sahabatku yang sedang bertambah usia...
Mujahadah tidak harus dimulai dengan hal besar. Bahkan, ia sering justru lahir dari keputusan-keputusan kecil yang kita buat setiap hari:
• Saat kita bangun lebih awal untuk menunaikan Subuh tepat waktu meski badan masih ingin rebahan.
• Ketika kita menahan diri untuk tidak membalas ucapan pedas pasangan atau anak dengan amarah.
• Saat kita memilih membaca Al-Qur’an sejenak dibanding terus scroll berita atau hiburan.
• Ketika kita tetap tersenyum di tengah beban hidup, sambil berkata dalam hati: “Ya Allah, aku ridha.”

Itulah mujahadah.

Namun mujahadah bukan tanpa tantangan. Yang paling berat adalah hawa nafsu yang terus membisikkan alasan untuk menunda. “Nanti saja,” “Tunggu siap,” “Aku kan nggak seburuk orang lain.” Sebelum sadar, waktu sudah berlalu, dan hati makin menjauh.

Lingkungan juga bisa menjadi ujian. Teman yang menggoda kita untuk cuek beribadah, rutinitas yang sibuk tanpa ruang untuk dzikir, dan konten yang terus menarik kita menjauh dari ruhiyah.

Tetapi bagi mereka yang bertahan, Allah menjanjikan ketenangan. Jiwa jadi lebih damai. Emosi lebih tenang. Hidup terasa lebih sederhana dan bersyukur. Bahkan di dunia pun, mujahadah sudah terasa buahnya.

Kita bisa belajar dari para sahabat Nabi ?. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.” Ia adalah sosok tegas terhadap dirinya sendiri—ia bermujahadah dengan disiplin tinggi dan kesadaran penuh akan tanggung jawabnya di hadapan Allah.

Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu adalah teladan dalam kelembutan hati. Ia menangis saat membaca Al-Qur’an, dan sangat takut amalnya tercampur riya. Mujahadahnya adalah muhasabah yang terus menerus—karena ia tahu, cinta kepada Allah harus dibayar dengan kesungguhan menjaga hati.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
??????????? ????????? ?????? ????????????????? ????????? ? ??????? ??????? ?????? ??????????????
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (mujahadah) di jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Al-‘Ankabut: 69)

Maka jangan tunggu sempurna. Mulailah sekarang.
Sekecil apa pun langkah kita, asal dilakukan dengan tulus dan terus-menerus, insyaAllah akan membuka jalan ke surga. Karena pada akhirnya, Allah tidak menilai hasil akhir, tapi menghargai kesungguhan kita untuk terus melangkah menuju-Nya.

? Tulisan ini diilhami dari Kitab Riyadhus Shalihin, Bab 11: Mujahadah, susunan Imam Nawawi rahimahullah.

Video



    
   

Guru dan Karyawan


Data Guru tidak ada

PPDB 2026-2027


Follow us


Kontak


Alamat :

Jl Dadali No. 12 Randugunting

Telepon :

0283 4534 123 - 0852-2527-3641

Email :

humaspsb2019@gmail.com

Website :

www.biastegal.sch.id

Media Sosial :

Banner


Berita Terbaru


Image

Bijak Menjaga Retak Sosial

Image

Neraka Pun Enggan Menyentuh Mereka

Image

Ketika Semua Tidak Harus Berbalas

Image

Tidak Harus Terlihat Hebat

Image

Mengenal Sakaratul Maut

Image

Ketulusan Yang Berbuah Penghargaan

Visitor