BINTANG TAK HARUS SEGERA BERSINAR
"Setiap
anak adalah bintang. Tapi tidak semua bintang bersinar di waktu yang
sama."
—Munif Chatib
Kalimat ini terdengar sederhana,
tapi menyimpan makna yang menenangkan sekaligus menyentil nurani. Bahwa setiap
anak punya cahaya, namun waktu bersinarnya tak selalu serempak. Ada yang
cemerlang sejak kecil, ada pula yang baru bersinar setelah melalui jalan terjal
penuh jatuh bangun.
Di ruang-ruang kelas, di meja makan
rumah, di tengah obrolan keluarga atau rapat guru—begitu sering kita dengar
kegelisahan seperti ini:
"Anak
saya nggak seperti kakaknya, cepat tangkap pelajaran."
"Dia kurang percaya diri, padahal teman-temannya sudah berani
tampil."
"Kenapa ya nilainya biasa-biasa saja, apa bisa sukses nanti?"
Kegelisahan itu manusiawi. Orang tua
ingin yang terbaik, guru pun berharap melihat hasil nyata dari proses belajar.
Tapi tanpa sadar, kita sering menakar anak-anak dengan ukuran yang bukan milik
mereka, lalu merasa kecewa karena hasilnya tak sesuai harapan.
Allah ? berfirman:
?????
???????????? ??? ??????? ??????? ???? ?????????? ?????? ??????
"Dan janganlah kamu iri terhadap apa yang Allah lebihkan kepada
sebagian kamu atas yang lain..."
(QS. An-Nisa: 32)
Sungguh, ketika kita terlalu sibuk
membandingkan, kita bisa lupa untuk bersyukur atas proses yang sedang mereka
jalani. Kita lupa bahwa anak ini bisa jadi sedang tumbuh dalam diam, sedang
mengasah jati dirinya, sedang menyusun langkah menuju cahaya yang akan
muncul... saat waktunya tiba.
Rasulullah ? bersabda:
?????
????????? ??????? ????? ???????????
"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci dan penuh
potensi)."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka wahai orang tua dan guru, mari
kita hentikan sejenak perlombaan ini. Mari lihat anak-anak kita sebagai amanah
hidup yang sedang berproses, bukan proyek yang harus segera berhasil. Tugas
kita bukan menjadikan mereka sempurna, tapi menjaga nyala semangatnya agar
tidak padam oleh perbandingan, harapan berlebihan, atau kata-kata yang
melemahkan.
Setiap bintang butuh malam untuk
bersinar. Dan setiap anak akan menemukan cahayanya, asal kita cukup sabar untuk
menemani, cukup bijak untuk memahami, dan cukup tulus untuk menghargai
perjalanan mereka.
(diinspirasi Logika Filsuf)
Video
Guru dan Karyawan
Data Guru tidak ada






