TAKHASSUS SANTRI BARU
Yayasan BIAS ASSALAM — Tahun Ajaran 2025/2026
Pagi itu, 7 juli 2025 halaman sekolah perlahan-lahan menjadi
panggung kehidupan.
Langkah-langkah kecil mulai datang, membawa rasa ingin tahu—dan diam-diam, rasa
takut. Anak-anak memasuki dunia baru yang tak mereka kenal. Dunia tanpa pelukan
ayah bunda. Tanpa suara ibu menyuapi sarapan. Tanpa boneka yang biasa tertidur
di sisi mereka.
Takhasus bukan sekadar orientasi. Ia
adalah perkenalan pertama antara seorang anak dan “rumah baru” bernama sekolah.
Selama enam hari pertama, kami
membuka ruang adaptasi. Bukan hanya bagi anak-anak, tapi juga bagi orang tua
yang untuk pertama kalinya harus belajar melepaskan.
Di salah satu sudut, terlihat
beberapa orang tua duduk di bangku kayu panjang. Tatapan mereka menembus
jendela kelas, mencari sosok kecil yang kini harus berdiri sendiri. Ada yang
menggenggam tangan pasangan. Ada yang diam, menelan gelisah dalam senyum tipis.
Tangisan terdengar. Seorang balita,
dengan mata basah dan suara parau, memanggil ibunya berkali-kali.
Seorang ustadzah bersimpuh di hadapannya, tak berkata banyak. Hanya satu tangan
lembut yang mengusap punggung mungil itu. Satu senyum sabar yang menyampaikan: “Kami
di sini. Kamu tidak sendirian.”
Anak-anak batita, yang belum mampu
membedakan waktu dan jarak, masih menolak perpisahan. Maka kami izinkan orang
tua mendampingi selama enam hari awal. Bukan sebagai pelindung mutlak,
melainkan sebagai jembatan rasa aman. Setelah itu, perlahan mereka akan belajar
melepaskan, dan kami siap menjadi pelukan baru yang menyambut mereka setiap
pagi.
Bagi anak-anak yang lebih besar—PAUD
hingga SMPIC—langkahnya mungkin sudah lebih tegak, tapi hati mereka tetap
mencari pegangan. Maka selama pekan Takhasus, kami ajak mereka menyusuri
sekolah: melihat ruang kelas, masjid kecil, taman yang riang, hingga ruang guru
tempat doa-doa tumbuh.
Kami perkenalkan guru dan
teman-teman. Kami nyanyikan lagu keberanian, kami gambar mimpi di atas kertas,
kami bercerita tentang Nabi dan sahabat, kami berjalan di bawah langit sambil
tertawa.
Di hari penutupan, ada panggung
kecil. Anak-anak tampil dengan suara bergetar, tangan gemetar—namun mata yang
mulai percaya diri. Di situ, keberanian tumbuh bukan karena disuruh, tapi
karena dicintai.
Untuk
Ayah Bunda Tercinta
Kami tahu, melepas anak bukan
perkara mudah. Tapi percayalah: setiap tangis akan reda, setiap peluk akan
menemukan pengganti, dan setiap anak akan belajar bahwa dunia ini lebih luas
dari halaman rumah.
Takhasus adalah pintu pertama menuju
kemandirian. Dan kami ada di sini—untuk menyambut, menemani, dan membesarkan
mereka bersama Anda.
Selamat datang di keluarga besar
Yayasan BIAS Assalam.
Mari bertumbuh bersama, dalam cahaya yang tak pernah padam.
Video
Guru dan Karyawan
Data Guru tidak ada






