Bahagia Mendidik Generasi Qurrata Ayun Pesan Penuh Makna dari Ustaz Ghusni Dorojatun, M.Pd. Di pagi yang cerah itu, halaman sekolah Bias Assalam terasa lebih hidup dari biasanya. Suara anak-anak yang
Pesan Penuh
Makna dari Ustaz Ghusni Dorojatun, M.Pd.
Di pagi yang cerah itu, halaman
sekolah Bias Assalam terasa lebih hidup dari biasanya. Suara anak-anak yang
bermain menyatu dengan tawa ringan para orang tua. Di tengah suasana yang
hangat itu, Ustaz Ghusni Dorojatun membuka stadium general dengan sebuah doa
penuh harap:
"Semoga
Allah mencatat seluruh yang hadir sebagai mujahid—para pejuang di jalan Allah.
Yang hadir hari ini, dengan niat yang tulus, insyaAllah mendapat kedudukan
paling mulia di sisi-Nya.”
Ia kemudian membacakan firman Allah
dalam Surah At-Taubah:
?????
????????? ??????? ??????????? ??????????? ??? ??????? ??????? ???????????????
????????????? ???????? ???????? ????? ???????
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan
Allah dengan harta dan jiwa mereka, lebih tinggi derajatnya di sisi Allah.”
(QS At-Taubah: 20)
Bagi Ustaz Ghusni, para guru, orang
tua, dan pengelola sekolah yang hari itu berkumpul tak lain adalah para
pejuang. Pejuang pendidikan, pejuang peradaban.
Lantas beliau mengajak hadirin
merenungkan sebuah doa yang hampir setiap orang tua muslim lafalkan, namun
seringkali tidak sepenuhnya dipahami kedalamannya:
????????
???? ????? ???? ???????????? ???????????????? ??????? ???????? ????????????
?????????????? ????????
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami
sebagai penyejuk hati (qurrata a’yun), dan jadikanlah kami pemimpin bagi
orang-orang bertakwa.”
(QS Al-Furqan: 74)
Makna "qurrata a’yun",
menurut penjelasan beliau, bukan semata anak yang menyenangkan hati orang
tuanya, tetapi yang menjadi penyebab kebahagiaan karena ketaatannya kepada
Allah dan Rasul-Nya. Bahkan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menafsirkan qurrata
a’yun sebagai:
“Anak-anak
keturunan yang taat kepada Allah.”
Inilah generasi yang berkualitas:
cerdas, berakhlak, dan menjadi bagian dari mata rantai kebaikan sepanjang
zaman.
Namun doa ini tidak berhenti di
situ. Allah mengajarkan kita memohon lebih tinggi: bukan hanya pasangan dan
keturunan yang saleh, tapi juga agar kita sendiri menjadi imam bagi
orang-orang bertakwa.
“Ya Allah,
jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
Menjadi orang tua bukan sekadar
mendidik anak-anaknya untuk saleh, tetapi menjadikan dirinya sendiri rujukan
kebaikan. Keteladanan adalah pendidikan terbaik.
Ustaz Ghusni lalu mengajak hadirin
menyadari bahwa inti kehadiran manusia di muka bumi adalah untuk beribadah.
Namun ibadah bukanlah beban. Justru ibadah adalah jalan menuju kebahagiaan
sejati. Ia menukil ayat dari Surah Yunus:
???
???????? ???????? ???? ?????????? ??????????? ???? ?????????? ????????? ?????
??? ?????????? ??????? ?????????? ????????????????
“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari
Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, petunjuk dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman.”
(QS Yunus: 57)
Dalam ayat ini, Al-Qur’an dihadirkan
sebagai nasihat, penyembuh jiwa, petunjuk tanpa batas, serta rahmat. Dan
semuanya diperuntukkan bagi mereka yang beriman.
Ayat berikutnya menjadi kunci utama:
????
???????? ??????? ?????????????? ??????????? ??????????????
“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu
mereka bergembira.”
(QS Yunus: 58)
Menurut Ustaz Ghusni, inilah jawaban
atas pertanyaan besar: untuk apa kita hadir di dunia? Jawabannya: untuk
bahagia.
Dan jalan menuju kebahagiaan itu adalah ibadah.
Ceramah pagi itu ditutup dengan
suasana haru dan interaktif. Para orang tua diminta saling mendoakan, menepuk
pundak satu sama lain, mengucapkan kalimat-kalimat penguat. Suasana spiritual
terasa hangat dan membumi.
“Ya Allah,
jadikan saudaraku ini orang tua yang kuat menghadapi ujian dari-Mu. Lunaskan
utangnya. Berkahilah keluarganya. Jadikan mereka penghuni surga.”
Satu kalimat pamungkas Ustaz Ghusni
masih terngiang:
"Jika
orang tuanya bahagia, insyaAllah anak-anak pun akan tumbuh menjadi generasi
qurrata a’yun.”
Video
Guru dan Karyawan
Data Guru tidak ada






