Hadiah Terindah dari Allah: Memahami Agama
???? ?????? ?????
???? ??????? ??????????? ??? ????????
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Dia akan memahamkannya
dalam urusan agama.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Banyak orang hari ini mengejar
kebaikan dalam bentuk harta, jabatan, atau popularitas. Namun Nabi ? justru
menyebut: kebaikan tertinggi adalah ketika Allah membuat seseorang paham agama.
Itulah karunia yang tidak bisa dibeli dengan uang, tidak bisa diwarisi, dan
tidak bisa dicapai hanya dengan gelar akademik.
Tapi
kenyataannya, banyak manusia menunda belajar agama. “Nanti kalau sudah tua,”
kata sebagian. “Nanti kalau sudah pensiun,” ujar yang lain. Padahal siapa yang
bisa menjamin umur?
Rasulullah ? pernah mengingatkan
dalam hadits:
???? ????? ???????? ????? ????? ??????? ?????
?
Dari Ibnu ‘Abbas berkata, Rasulullah
? bersabda:
??????????? ????????? ???????? ??????? ????
????????: ?????????? ????????????
“Ada dua nikmat yang banyak manusia
tertipu dengannya: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)
Inilah sebab utama orang sering
menunda menuntut ilmu. Selagi sehat, dipakai untuk foya-foya. Selagi ada waktu,
dipakai untuk rebahan atau hiburan tak ada ujung.
Di zaman modern, ada lagi penyakit
lain: gengsi. Banyak yang merasa malu datang ke majelis ilmu karena
takut dianggap “kurang pintar”. Ada pula yang sibuk mengejar sertifikat,
seminar, atau workshop, tapi enggan belajar mengaji dasar-dasar agama.
Ada pula penyakit sibuk:
kerja tanpa henti, mengejar target, lalu mengeluh tak ada waktu untuk belajar
agama. Ironisnya, waktu habis untuk scroll media sosial berjam-jam, tapi merasa
tak sempat membaca satu halaman tafsir.
Sebagian orang modern juga terjebak materialisme:
merasa ilmu yang penting hanyalah yang menghasilkan uang. Padahal ilmu agama
justru yang paling panjang manfaatnya—bukan hanya untuk dunia, tapi juga
akhirat.
Tak sedikit
pula orang yang tidak bahagia, meski harta berlimpah. Mengapa? Karena
mereka kehilangan makna. Padahal, memahami agama adalah sumber ketenangan hati.
Allah pilih siapa saja yang Dia kehendaki untuk kebaikan ini. Tapi banyak yang
tak menyadarinya, bahkan menolaknya.
Hadits
Mu’awiyah di atas bukan sekadar teori, melainkan cermin. Jika kita masih mau
belajar agama, itu tanda Allah menghendaki kebaikan bagi kita. Kalau kita
dipertemukan dengan majelis ilmu, itu bukan kebetulan—itu panggilan Allah.
Allah sudah mengingatkan dalam surat
Al-‘Ashr:
??????????? ? ????? ??????????? ????? ?????? ?
?????? ????????? ??????? ?????????? ????????????? ???????????? ??????????
???????????? ???????????
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu
benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh,
saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”
Imam Syafi‘i bahkan berkata: “Seandainya
manusia merenungkan surat ini saja, niscaya sudah cukup bagi mereka.”
Artinya, waktu adalah ujian. Kalau iman tidak diisi dengan pemahaman agama,
amal bisa salah arah. Kalau tidak ada nasihat kebenaran, kita larut dalam tipu daya dunia. Kalau
tidak ada kesabaran, belajar agama mudah ditinggalkan.
Maka jangan
tunggu tua. Jangan tertipu sehat dan waktu
luang. Jangan kalah
oleh gengsi atau sibuk dunia.
Karena kebaikan
tertinggi adalah ketika Allah bukakan hati kita untuk memahami agama-Nya.
Itulah nikmat yang lebih mulia daripada rumah megah, pangkat tinggi, atau
tabungan berlimpah
(Riyadus Sholihin
Bab : 241 , Keutamaan orang yang belajar dan mengajar karena Allah )
Video
Guru dan Karyawan
Data Guru tidak ada






