Berbeda Nasib, Karena Berbeda Ilmu
???? ????????? ????????? ???????????
??????????? ??? ???????????
“Apakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu?”
(QS. Az-Zumar [39]: 9)
Dua anak muda,
sebaya, sama-sama mencari pekerjaan. Yang satu tampil percaya diri di ruang
wawancara, membawa dokumen rapi, mampu menjawab dengan tenang. Yang lain duduk lemas di trotoar,
memegang surat penolakan, menunduk penuh penyesalan. Skenario ini nyata dalam
kehidupan sehari-hari: nasib berbeda, karena bekal ilmu berbeda.
Al-Qur’an sudah menegaskan dengan
pertanyaan yang tak butuh jawaban panjang: “Apakah sama orang yang tahu
dengan yang tidak tahu?” Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar
menjelaskan, ayat ini adalah pengingat keras: derajat orang berilmu jauh di
atas orang yang membiarkan dirinya tetap dalam kebodohan.
Ilmu bukan hanya tentang bangku
sekolah. Ilmu adalah panduan hidup. Orang yang paham aturan Allah akan lebih
hati-hati mencari rezeki. Orang yang tahu halal-haram akan lebih terjaga dalam
pekerjaannya. Sebaliknya, orang yang tidak tahu mudah tergelincir: terseret
arisan bodong, tertipu janji manis, atau terjebak gaya hidup konsumtif.
Kebodohan sering membawa penyesalan.
Seperti tanah tandus yang tak bisa menumbuhkan apa-apa, hati yang menolak ilmu
hanya melahirkan kesulitan. Sementara ilmu, sekecil apa pun, bisa jadi cahaya
yang menuntun jalan keluar.
Sayangnya, banyak orang modern
justru malas menambah ilmu. Ada yang sibuk mengejar materi, merasa cukup dengan
“yang penting kerja”. Ada yang gengsi belajar agama karena merasa “sudah tua”
atau “sudah pintar”. Padahal, bukankah hidup terus memberi ujian baru yang
butuh ilmu baru?
Buya Hamka menulis, ilmu membuat
manusia terangkat martabatnya, sementara kebodohan menjatuhkannya. Bahkan, ilmu
dunia yang hebat tanpa bimbingan ilmu agama bisa menyesatkan. Karena itu, ilmu
agama harus menjadi kompas: mengarahkan agar ilmu dunia tetap bermanfaat, bukan
mencelakakan.
Setiap orang punya kesempatan yang
sama. Ilmu tersedia, majelis ada, kitab terbuka. Tinggal kita: mau menyiapkan
diri seperti tanah subur yang menyerap hujan, atau membiarkan hati keras dan
tandus.
Hidup ini
penuh perbedaan nasib. Dan salah satu pembeda terbesarnya adalah: ilmu.
(Riyadus Sholihin BAB 241 , Keutamaan Belajar dan Mengajar Karna ALLAH)
Video
Guru dan Karyawan
Data Guru tidak ada






