Lampu yang Padam
Malam itu di Madinah, Rasulullah ﷺ
kedatangan seorang tamu. Wajah tamu itu letih, langkahnya gontai, perutnya
kosong. Di rumah beliau sendiri tak ada makanan tersisa. Dengan kelembutan
khasnya, Rasulullah ﷺ menoleh kepada para sahabat:
"Siapakah
di antara kalian yang bersedia menjamu tamu ini malam ini?"
Seorang sahabat Anshar, Abu
Thalhah al-Anshari, segera bangkit. Ia tahu, menjamu tamu Rasulullah bukan beban, melainkan
kemuliaan. Ia pun membawa sang tamu ke rumahnya. Sang istri, Ummu Sulaim,
menghela napas lirih: “Makanan kita hanya cukup untuk anak-anak.”
Namun Abu
Thalhah mantap menjawab: “Tidurkan mereka walau lapar. Siapkan makanan itu
untuk tamu Rasulullah. Dan saat kita makan bersama, padamkanlah lampu. Biarlah
ia merasa kita ikut makan.”
Maka, anak-anak
ditidurkan dengan perut kosong. Lampu ruangan dipadamkan. Sang tamu makan
dengan tenang, tak tahu tuan rumahnya hanya pura-pura menyuap makanan dalam
gelap. Malam itu Abu Thalhah dan istrinya tidur dalam kelaparan.
Keesokan
paginya, Rasulullah ﷺ bersabda dengan penuh bangga:
"Allah tersenyum melihat perbuatan kalian berdua tadi malam."
Kisah ini diabadikan Allah dalam
firman-Nya:
وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ
بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ
ٱلْمُفْلِحُونَ
"Dan mereka mengutamakan orang
lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang
dijaga dari sifat kikir dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang
beruntung." (QS.
Al-Hasyr: 9)
Relevansi Kisah Diatas
Kisah Abu Thalhah dan Ummu Sulaim
adalah cermin pengorbanan sejati. Namun di tengah masyarakat modern, kisah ini
seperti cahaya yang kian redup. Kita hidup di era individualisme. Tetangga
lapar tak terdengar karena tembok ego terlalu tinggi. Kita terbiasa mengejar kenyamanan
sendiri, tetapi lupa menengok kanan-kiri.
Padahal, budaya
itsar—mendahulukan orang lain meski diri sendiri sulit—pernah menjadi
wajah luhur bangsa kita. Gotong
royong, saling menolong, dan berbagi rezeki adalah akar yang membuat bangsa ini
kokoh. Kini akar itu
rapuh. Maka kita perlu menyalakan kembali lampu kepedulian.
Lampu Abu
Thalhah memang dipadamkan malam itu. Tapi justru dari kegelapan itu lahirlah
cahaya keberkahan yang Allah abadikan dalam Al-Qur’an.
Gerakan
Bersama LAZIS BIAS ASSALAM 🤲
Kini saatnya
kita menghidupkan kembali semangat itsar. Melalui LAZIS BIAS ASSALAM,
kita bisa menjadikan kepedulian bukan sekadar cerita, tetapi aksi nyata. Ada
banyak cara untuk ikut menyalakan cahaya:
✨ Gerakan Sedekah Subuh – menyisihkan rupiah setiap pagi untuk
keberkahan hari.
✨ Program Orang Tua Asuh –
membantu pendidikan anak yatim dan dhuafa agar terus bersekolah.
✨ Infaq & Shodaqoh –
berbagi rezeki untuk kebutuhan sesama.
✨ Wakaf – investasi abadi
untuk amal jariyah.
💳 Salurkan donasi melalui:
Bank Syariah Indonesia (BSI) – No. Rek. 7114777719
a.n. LAZIS BIAS ASSALAM
Mari jadikan
kisah Lampu yang Padam ini bukan sekadar nostalgia, tetapi gerakan
nyata. Saat kita rela berbagi, sesungguhnya kita sedang membuat Allah
tersenyum—sebagaimana Abu Thalhah dan Ummu Sulaim pernah melakukannya.
Video
Guru dan Karyawan
Data Guru tidak ada






